Kerja dapat diartikan sebagai tindakan yang muncul diakibatkan oleh sebuah stimulus. Seperti yang diujicobakan oleh Pavlov dimana ia memancing kerja air liur seekor anjing dengan memberikan stimulus sebuah daging. Seorang siswa tidak boleh terlambat masuk sekolah sebab ia akan mendapatkan hukuman dari gurunya bila datang terlambat. Jadi bila siswa tersebut tidak ingin mendapatkan hukuman dari gurunya maka jangan sampai datang terlambat ke sekolah. Hukuman merupakan stimulus yang sengaja diberikan untuk membentuk pola yaitu sebuah kerja yang diinginkan. Pola kerja disini yang ingin dibentuk adalah perilaku siswa untuk datang tepat waktu.
Behaviorisme memandang perilaku kerja sebagai suatu hal yang sangat dipengaruhi oleh stimulus di sekitarnya. Perilaku kerja dapat dibentuk sesuai dengan yang diinginkan tergantung kadar pemberian stimulusnya. Konsep kerja bila dikaitkan pada paham behaviorisme sebenarnya mengarahkan kepada keteraturan. Perilaku kerja menjadi terpola dan dapat dikendalikan. Dari contoh perilaku siswa yang datang ke sekolah tadi dapat dianalisis bahwa pola kedatangannya ke sekolah akan menjadi teratur tepat waktu dengan penetapan hukuman bila ia terlambat.
Selain itu dalam neobehaviorisme yang dikembangkan oleh Hull terdapat pula proses pengkondisian pada organisme yang sedang melakukan proses belajar atau yang dalam konteks ini dikatakan sebagai kerja. Pada kondisi-kondisi tertentu pola kerja yang dibentuk akan muncul secara otomatis sebab telah terjadi proses belajar di dalamnya. Untuk contoh yang dibahas sebelumnya kondisi-kondisi tersebut dapat berupa tempat terjadinya yaitu di sekolah dan suasana yang ada di sekitarnya seperti waktu dan figur-figur tertentu misalnya guru yang mendukung proses belajar atau pola kerja yang diinginkan serta tidak lupa hukuman yang telah disiapkan bila siswa terlambat.
Dengan intensitas yang teratur maka akan terbentuk pola kerja yang diinginkan. Kelemahan dari metode ini justru ada pada jumlah intensitasnya. Bila intensitas yang diberikan tidak teratur akan membuat organisme menjadi sadar dan dapat melupakan proses belajar atau pola kerjanya dan kembali pada perilaku awal. Jika hukuman yang diberikan kepada siswa yang datang terlambat tidak intens atau tidak tentu diberikan maka akan membuat perilaku siswa menjadi semaunya dan akhirnya tidak membentuk pola kerja yang diinginkan.
Perspektif kerja menurut Depth Psychology
Konsep kerja menurut Depth Psychology mengarah pada bentuk pengertian yang mengarah pada patologi dari kerja itu sendiri. Ada kalanya kita dikejar oleh tenggang waktu kerja (deadline) yang harus dipenuhi sebelum waktunya tiba. Disini kita seharusnya dapat memahami makna kerja secara keseluruhan, kita mendalami dan mengerti esensial karakteristik kerja yang sebenarnya. Dengan begitu maka kita akan dapat mengatur dan memilah kerja sesuai dengan kemampuan dan tidak dikejar oleh deadline.
Seorang tukang becak sangat mengerti akan karakteristik kerjanya. Ia mengerti bagaimana ia bekerja di bawah terik matahari tanpa pingsan sekalipun. Padahal ia juga sama seperti orang-orang lainnya dan terkadang bila seseorang itu ditukar profesinya dengan tukang becak belum tentu dapat bertahan. Tukang becak ini dapat bertahan dibawah terik matahari sambil mengayuh becak mengantarkan para penumpangnya ke tujuan masing-masing yang jaraknya beragam.
Ia sangat mengerti apa yang membuatnya dapat bertahan dalam kondisi kerja yang seperti itu. Secara tidak sadar tukang becak memiliki karakter berpakaian tersendiri untuk membuatnya nyaman dalam mengayuh becak seperti menggunakan pakaian yang berbahan katun dan mudah untuk menyerap keringat, membuat efek sejuk bila dikenakan pada jangka waktu yang lama, seharian misalnya. Selain itu tukang becak juga mengenakan topi untuk melindungi kepalanya dari sengatan matahari. Ia juga mengenakan sandal yang tidak memberatkan kakinya untuk mengayuh becak. Hal-hal seperti ini secara tidak sadar telah membentuk karakteristik tukang becak dalam kerja mengayuh becaknya. Keseluruhannya adalah berorientasi pada person-centered dan humanis.
Bila seseorang tidak nyaman dengan kondisi dan situasi tertentu maka akan berusaha untuk membuat dirinya senyaman mungkin dengan mengerahkan segala kemampuannya yang disesuaikan dengan situasi tersebut dan hal itu terkadang tidak disadari oleh individu yang bersangkutan. Ketidaksadaran itulah yang menjadi salah satu unsur dalam Depth Psychology.
Perspektif kerja menurut Psikologi Humanistik-Eksistensialisme
Psikologi Humanistik-Eksistensialisme memberikan penjelasan tentang konsep kerja yang menitikberatkan pada bahasa. Dimana kerja merupakan media bagi kita untuk mencapai tujuan, harapan serta cita-cita. Dengan kerja, kita dapat mengapresiasikan kedudukan kita dalam masyarakat. Kedudukan tersebut dapat kita capai dengan seberapa besar kita mengatur dan menginfestasikan kerja.
Ada dua orang yang bekerja pada satu tempat yang sama dengan kedudukan yang sama pula. Bilang saja orang pertama dengan sebutan A dan orang yang kedua dengan sebutan B.
A adalah orang yang rajin kerja di kantornya, ia mengetahui betul apa saja yang harus diselesaikan setiap harinya di kantor. A tidak pernah mengeluh dengan segala beban kerja yang ia terima dari atasannya. Sebaliknya, A dengan senang hati melakukan segala beban kerja yang diberikan kepadanya dengan ikhlas.
Berbeda dengan A, B merupakan orang yang malas. Ia selalu tidak bersemangat dalam bekerja di kantor. Pekerjaannya hanya mengeluh pada rekan-rekan kerjanya. Dengan sikap malasnya maka mengakibatkan B selalu dikejar deadline. Belum lagi B kerap mendapat teguran dari atasan karena cara kerjanya yang seperti itu. B semakin tidak bersemangat dalam bekerja dan terpaksa menerima itu semua asalkan ia tidak dikeluarkan dari kantor. Kelebihan B adalah dapat menyelesaikan tugas yang diberikan dengan baik walaupun dengan menjalani cara yang seperti itu.
Dari cerita ilustrasi diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa A dan B memiliki cara dan karakteristik tersendiri untuk melakukan pekerjaannya. A yang rajin merasa nyaman bekerja dengan segala sesuatu yang tertata dan rapi tanpa dikejar-kejar waktu. Dengan cara yang seperti itu ia dapat menyelesaikan pekerjaannya. Karena cara itulah yang membuat ia nyaman dalam bekerja dan menyelesaikannya dengan baik.
B juga tidak kalah, ia memiliki cara tersendiri yang menurutnya lebih nyaman dalam menyelesaikan pekerjaannya. Menurutnya dalam keadaan terjepit akan membuat ia lebih maksimal dalam menyelesaikan segala tugasnya di kantor. Orang-orang di sekelilingnya mungkin tidak sepaham dengan caranya menyelesaikan pekerjaan namun tujuan akhirnya adalah sama. Yang terpenting dari itu semua ialah pekerjaan yang dapat diselesaikan dengan baik. Dengan bagaimanapun caranya.
Cara-cara yang digunakan dalam ilustrasi diatas adalah human, tergantung pada kenyamanan masing-masing individu dalam menyelesaikan pekerjaanya, ada yang sama dan tidak sedikit pula yang berbeda bahkan ekstrim. Sekarang kita lihat saja tujuan akhir dari sebuah pekerjaan.
Cara-cara yang ekstrim menjadi tidak lazim dalam kehidupan di masyrakat tetapi bukannya sesuatu hal yang berbeda akan menjadi ragam dalam sebuah komunitas? B yang menurut orang-orang malas ternyata juga bisa menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah bukan kemalasan B yang menjadi masalahya tetapi dapat selesai atau tidak pekerjaan yang dikerjakan B. Dan B ternyata mampu menyelesaikannya dengan baik.
Dalam ranah Psikologi sangat erat kaitannya dengan individual deferences, bahwa setiap individu memiliki kekhasan dan keunikan masing-masing dalam dirinya yang sebaiknya kita hargai satu sama lain. Bahkan tanpa kita sadari kekhasan dan keunikan tersebut dapat menjadi kekuatan dalam diri setiap individu, tinggal bagaimana kita dapat mengembangkan dan menggali potensinnya.
Sumber :Tageson, C. W. Humanistic Psychology A Synthesis.
numpang baca.....
BalasHapusada literatur2 yang bisa direferensikan ga ya untuk pemaknaan kerja ini??
BalasHapus